STT Telkom, akankah menjadi kenangan saja…

STT Telkom, akankah menjadi kenangan saja…
TW Yunianto*

Tower
– tower tersisa dua, menghapus ironi masa lalu yang mengharu biru dalam
sejuta kenangan panjang. Lingkungan yang semakin panas merefleksikan
kondisi persaingan hidup yang semakin mengganas. Pembelajaran akan
kehidupan seolah menjadi rutinitas tiada isi. Semua adalah retorika
belaka….

Empat tahun adalah waktu standar bagi kita untuk
menjalani kehidupan di kampus ini. Perjuangan panjang mulai dari kepala
gundul (baca:ospek), sampai memakai topi toga adalah sesuatu yang tak
bisa kita lupakan begitu saja. Rentang empat tahun telah memberikan
kesempatan bagi kita untuk saling mengerti, saling mengisi, saling
memahami, dan saling memaknai. Selama empat tahun itu pula kita
mendapatkan sesuatu yang mungkin membantu diri kita dalam mengayuh masa
depan.

Sesaat kita merenung sejenak. Segala duka dan suka
mungkin pernah kita lewati dalam kehidupan di kampus ini. Mulai dari
rasa bangga kuliah di kampus bonafit STT Telkom, sampai rasa kesal
menunggu dosen pembimbing yang tak kunjung datang. Tumpah ruah rasa dan
emosi seakan mengalir indah penuh warna. Akankah kita mampu mengulangi
masa – masa kenangan tersebut ?

Segenap asa mungkin pernah kita
keluhkan di kampus ini. Almamater yang sadar atau tidak sadar telah
mengantarkan kehidupan kita seperti layaknya saat ini. Kita tidak bisa
menyalahkan lingkungan yang telah membesarkan kita. Layaknya seorang
ibu yang sayang kepada anaknya, namun juga seorang ibu yang hanya
manusia biasa yang tak luput dari kesalahan – kesalahan manusiawi.

Penyesalan
mungkin selalu ada dalam dada – dada kita. Namun, saat ini yang
diperlukan oleh bangsa dan intitusi ini adalah sosok pemuda – pemuda
yang sarat dengan idealisme dan kreativitas nyata untuk sebuah
perubahan ke arah perbaikan. Layakkah kita menyalahkan seorang ibu
(baca:STT Telkom) yang saat ini sedang mencari jati dirinya ? Menginjak
usia yang ke-15 ini, apa yang sudah diberikan kampus tercinta untuk
bangsa ini ? Namun sebelum bertanya tentang hal itu, maka tanyakanlah
kepada diri kita apa yang telah kita sumbangkan bagi institusi ini
tercinta. Semua itu tak akan terlepas dari kita, sosok mahasiswa dan
alumni yang selamanya akan terikat dengan yang namanya STT Telkom.

Mari kita mulai dari pertanyaan, “Kamu kuliah dimana ? Kamu sarjana lulusan mana ?”.
Semua jawabnya adalah, “STT Telkom”, apakah dengan bangga, malu, maupun bangga namun penuh dengan dendam kesumat yang membara.

Kawan
– kawan, segenap rindu mungkin pernah kita ungkapkan terhadap institusi
ini. Namun segenap kekesalan dan kekecewaan seringkali kita tumpahkan
pula. Sadar atau tidak sadar, kita juga pernah hidup di sebuah
komunitas STT Telkom. Segenap kesalahan yang ada di lingkungan
institusi ini mungkin kita juga turut berkontribusi menciptakannya.
Maka layakkah saat ini kita masih berdendam ria dengan institusi
tercinta ini ? Yang harus kita pahami adalah, kesalahan bukanlah
terletak pada lingkungan yang bernama STT Telkom. Namun, segala hal itu
terletak pada individu – individu yang saat itu mungkin sedang memegang
tampuk kekuasaan di institusi ini. Maka ketika kita masih memiliki
nurani, kita tidak akan merasa menyesal, dendam, atau bahkan segala
perasaan negatif apapun kepada institusi yang layaknya seperti ibu
kita.

Saat ini, ibu kita (baca:STT Telkom) membutuhkan
kontribusi dan pemikiran kita. Beliau sudah bertambah tua. Tidak layak
bagi kita sebagai seorang anak melupakan begitu saja segala jasa orang
tua, atau paling tidak orang yang pernah berjasa dalam hidup kita. STT
Telkom baru saja mendapatkan sosok pemimpin yang baru. Ketua STT Telkom
beserta pembantu ketua yang baru nantinya kita harapkan mampu
memberikan atmosfir perubahan bagi kampus tercinta ini.

Kita
tidak bisa berlepas diri. Kita tidak bisa cuci tangan. Kitapun juga
tidak bisa balik kembali ke sebuah rahim mulia yang telah melahirkan
kita sebagai insan – insan telekomunikasi. Walaupun saat ini arah masa
depan tergantung pada diri kita masing – masing, namun satu hal yang
harus kita ingat adalah ibu kita (baca:STT Telkom) tidak akan pernah
menghapus kenangannya saat kita berada dalam buaiannya. Lantas apa yang
telah kita berikan kepada ibu kita, yang mungkin saat ini kita masih
berada dalam asuhannya, maupun kita yang sekarang sudah terlepas
layaknya anak burung yang sudah mampu mengepakkan sayapnya menuju ufuk
timur menyongsong mentari bangkit dari tidurnya.
Saatnya tunjukkan
kontribusi, baik kita yang masih menjadi mahasiswa maupun alumni yang
saat ini sudah tersebar di seluruh pelosok negeri, atau bahkan mereka
yang saat ini berada di seberang samudera yang tak nampak di ufuk
cakrawala. Mari kita sempatkan diri kita untuk memikirkan nasib dan
masa depan dari intitusi ini. Kalaupun tak bisa satu hari, satu jam,
atau bahkan satu menit, maka waktu satu hirupan nafas adalah anugerah
yang mungkin bisa kita berikan kepada ibunda tercinta.

Viva STT Telkom….
Biarkan diriku mengetuk pintumu….
’Tuk lindungi dirimu dari orang – orang yang sengaja memanfaatkanmu untuk kepentingan pribadi mereka.
Satu, dua, tiga, kita ucapkan kembali ”Assalamu’alaika yaa habibi…”.
Selamat menjalani usia yang kelima belas tahun ini.

Assalamu’alaika yaa habibi… : Selamat dan salam semoga tercurah padamu wahai kekasihku (baca:STT Telkom).

*) Presiden Mahasiswa BEM KBM STT Telkom

Leave a Reply